Kamis, 27 Juni 2013

analisis keputusan



1. Pengambilan keputusan merupakan salah satu fungsi kunci keberhasilan dalam manajemen bisnis. Pada zaman sekarang, proses pengambilan keputusan baik untuk negara maupun untuk niaga atau bisnis banyak diteliti orang. Apa sebabnya? Sebab, mereka beranggapan bahwa proses keputusan itu sangat unik dan erat kaitannya dengan keberhasilan usaha atau bisnis. Suatu keputusan yang benar, tumbuh dan berkembang dari adanya pertentangan antar pendapat dan alternative alternatif yang saling bersaing.
Di dalam kegiatan usahanya, wirausahawan akan dihadapkan pada berbagai resiko yang akan mempengaruhi kelangsungan usahanya. Oleh karena itu, wirausahawan dituntut untuk memiliki kemampuan dalam menghadapi resiko, dan metode pengambilan resiko.
Membuat keputusan (decision making) adalah suatu proses memilih alternatif tertentu dari beberapa alternatif yang ada. Jadi, membuat keputusan adalah suatu proses memilih antara berbagai macam cara untuk melaksanakan pekerjaan. Semakin berpengalaman dalam pengambilan keputusan, semakin besar pula kepercayaan diri yang akan semakin berorientasi pula pada suatu tindakan. Jika seorang wirausaha mampu mengambil suatu keputusan dalam batas-batas waktu yang masuk akal, mungkin ia mampu mengambil suatu keputusan yang menguntungkan sehingga sewaktu-waktu muncul peluang-peluang bisnis.
Di sini seorang Wirausaha harus cepat mengambil suatu keputusan agar dapat menggunakan kesempatan sebaik-baiknya. Wirausaha yang ingin maju dalam bisnisnya, harus dapat memutar akal dengan mengandalkan intuisi, ide-ide yang penuh kreatif dan inovatif. Mereka juga harus memandang persoalan dalam konteks yang lebih luas, sambil mengingat bahwa keputusan-keputusan utama akan mempunyai akibat-akibat jangka panjang atas operasi bisnisnya. Seorang wirausaha diharapkan lebih aktif dalam dan lebih kreatif, karena ia harus membuat keputusan (decision making) tanpa bantuan data-data kuantitatif (data berbentuk angka-angka) atau dukungan staf yang berpengalaman.
Keberhasilan seorang Wirausaha di dalam bisnis, tergantung pada kemampuan membuat keputusan yang meningkatkan keuntungan bisnisnya pada masa yang akan datang. Kemampuan membuat keputusan dapat diperoleh dari pengalamannya selama bertahun-tahun. Akan tetapi, dalam prakteknya pasti ada saja kesalahan-kesalahan, yang harus cepat disadari dan diambil tindakan pembetulannya.
Dalam perusahaan besar, biasanya pembuatan dan pengambilan keputusan itu didasarkan atas dasar data-data dan dokumentasi perusahaan yang terdapat dalam survei, laporan usaha, dan sebagainya. Informasi ini biasanya telah dihimpun dengan cara yang sudah ditentukan, sesuai dengan teknik-teknik pemecahan masalah.
Adapun pedoman untuk membuat keputusan, kuncinya adalah sebagai berikut:
  1. Terlebih dahulu, tentukan fakta-fakta dari persoalan yang sudah dikenal.
  2. Identifikasi, bidang manakah dari persoalan-persoalan yang tidak berdasarkan fakta-fakta. Di bidang yang dikenal inilah, seorang Wirausaha harus menggunakan logika, penalaran, dan institusinya untuk membuat keputusan.
  3. Keberanian dan antusiasme sangat diperlukan dalam menerapkan sebuah keputusan
  4. Bersedia untuk mengambil tindakan agresif dalam menerapkan sebuah keputusan.
  5. Ambillah risiko yang sedang-sedang saja jika terdapat ketidakpastian yang besar
  6. Dalam keadaan tertentu, mungkin lebih baik untuk meneruskan sesuatu yang telah berhasil pada masa lampau.
  7. Jauhilah keputusan-keputusan yang akan mengubah secara drastis susunan organisasi yang sekarang.
  8. Keputusan perlu diuji cobakan dahulu.
2.  Perubahan situasi dan kondisi yang sangat cepat menjadi faktor yang harus dipertimbangkan dalam manajemen yang mendorong manajer untuk mampu membuat sejumlah keputusan dalam waKepala Sekolah yang tepat dan cepat. Untuk mampu mengimbangi cepatnya perubahan waKepala Sekolah, seorang manajer harus sanggup menghadapi minimal tiga tantangan yaitu: (1) keadaan yang sangat kompleks, (2) keadaan yang tidak menentu, dan (3) tuntutan untuk dapat bertindak luwes.
 
Kualitas suatu keputusan merupakan cermin dari daya pikir manajer. Oleh karena itu, berpikir dalam hubungannya dengan mengambil keputusan dan memecahkan masalah harus diusahakan agar tidak tersesat ke jalan yang tidak efektif dan efisien.
Modul ini membahas pengertian pengambilan keputusan, proses pengambilan keputusan, dan contoh-contoh cara mengambil keputusan.

Pengambilan keputusan ialah proses memilih sejumlah alternatif. Pengambilan keputusan penting bagi administrator pendidikan karena proses pengambilan keputusan mempunyai peran penting dalam memotivasi, kepemimpinan, komunikasi, koordinasi, dan perubahan organisasi. Setiap level administrasi sekolah mengambil keputusan secara hirarkis. Keputusan yang diambil administrator berpengaruh terhadap pelanggan pendidikan terutama peserta didik. Oleh karena itu, setiap administrator pendidikan harus memiliki keterampilan mengambil keputusan secara cepat dan tepat.

Setiap model memiliki basis umum pengambilan keputusan. Model pengambilan keputusan dapat dibedakan atas model pengambilan keputusan rasional, model pengambilan keputusan klasik, model pengambilan keputusan perilaku, model Vroom & Yetton (decision tree), model pengambilan keputusan Chung & Megginson, dan model pengambilan keputusan pohon masalah. Model Pengambilan Keputusan Rasional.

Keputusan tidak terprogram ialah keputusan yang diambil untuk menghadapi situasi rumit dan atau baru.
Keputusan yang tidak Terprogram. Biasanya diambil dalam usaha memecahkan masalah-masalah baru yang belum pernah dialami sebelumnya, tidak bersifat repetitif (berulang-ulang), tidak terstruktur, dan sukar mengenali bentuk, hakikat dan dampaknya. Sebagai akibat keadaan demikian, para ahli belum mampu menyajikan teknik pemecahan yang sudah terbukti efektif di masa lalu, baik karena sifatnya yang baru itu maupun karena sukar untuk mendefinisikan hakikatnya secara tepat. Keputusan yang tidak Terprogram tidak menyangkut hal-hal yang sifatnya operasional, akan tetapi menyangkut kebijaksanaan organisasi dengan dampak yang strategis bagi eksistensi organisasi. (Siagian, S.P.; 1993),

Jenis-jenis pengambilan keputusan

a)     Gaya Analitik
      Pembuat keputusan gaya analitik mempunyai toleransi yang tinggi untuk ambiguitas dan tugas yang  kuat serta orientasi teknis. Jenis ini suka menganalisis situasi; pada kenyataannya, mereka cenderung terlalu menganalisis sesuatu. Mereka mengevaluasi lebih banyak informasi dan alternatif darpada pembuat keputusan direktif. Mereka juga memerlukan waktu lama untuk mengambil kepuputusan mereka merespons situasi baru atau tidak menentu dengan baik. Mereka juga cenderung mempunyai gaya kepemimpinan otokratis.

Faktor-faktor pengambilan keputusan
   Faktor – faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan
   Diantaranya :
   faktor Fisik
   Emosional
   Rasional
   Praktikal
   Interpersonal dan Struktural

Keputusan dapat diambil dengan cara individual & kelompok, individual contohnya seperti pengambilan keputusan yang diambil oleh manager saja tanpa adanya rapat kerja atau diskusi. Sedangkan kelompok merupakan pengambilan keputusan yang prosesnya melalui hasil dari rapat atau diskusi bersama.

Untuk mendapatkan hasil yang baik Pengambilan keputusan haruslah melalui beberapa proses, diantaranya :
1.       IDENTIFIKASI MASALAH
2.       PENGUMPULAN & PENGANALISASI DATA
3.       PEMBUATAN ALTERNATIF-ALTERNATIF KEBIJAKAN
4.       PEMILIHAN SALAH SATU ALTERNATIF TERBAIK
5.       PELAKSANAAN KEPUTUSAN

Dengan cara melakukan proses seperti di atas pengambilan keputusan dalam organisasi akan berjalan baik dan akan mendapat hasil yang baik pula.
4 Pengambilan keputusan berdasarkan intuisi adalah pengambilan keputusan yang berdasarkan perasaan yang sifatnya subyektif. Dalam pengambilan keputusan berdasarkan intusi ini, meski waktu yang digunakan untuk mengambil keputusan relatif pendek, tetapi keputusan yang dihasilkan seringkali relatif kurang baik karena seringkali mengabaikan dasar-dasar pertimbangan lainnya.
Keputusan yang diambil berdasarkan intuisi atau perasaan lebih bersifat subjektif yaitu mudah terkena sugesti, pengaruh luar, dan faktor kejiwaan lain.
Sifat subjektif dari keputusuan intuitif ini terdapat beberapa keuntungan, yaitu:
  1. Pengambilan keputusan oleh satu pihak sehingga mudah untuk memutuskan. 
  2. Keputusan intuitif lebih tepat untuk masalah-masalah yang bersifat kemanusiaan.
Pengambilan keputusan yang berdasarkan intuisi membutuhkan waktu yang singkat Untuk masalah-masalah yang dampaknya terbatas, pada umumnya pengambilan keputusan yang bersifat intuitif akan memberikan kepuasan. Akan tetapi, pengambilan keputusan ini sulit diukur kebenarannya karena kesulitan mencari pembandingnya dengan kata lain hal ini diakibatkan pengambilan keputusan intuitif hanya diambil oleh satu pihak saja sehingga hal-hal yang lain sering diabaikan.





G. Proses Pengambilan Keputusan :
1. Pendekatan yang interdisipliner.
Proses pengambilan keputusan tidak bisa dilihat sebagai suatu tindakan tunggal dan tidak sebagai suatu tindakan yang Seragam yang berlaku untuk semua keadaan serta dapat digunakan oleh pengambil keputusan yang berbeda dengan tingkat efektifitas yang sama. Proses pengambilan keputusan terdiri dari berbagai ragam keterampilan dan pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman dalam kehidupan berorganisasi.

2. Proses yang sistematis.
Suatu proses logis yang melibatkan pengambilan langkah-langkah secara berturut atau sekuensial dengan merinci proses tersebut menjadi bagian-bagian yang lebih kecil (pendekatan atomik). Pendapat lain mengatakan proses pengambilan keputusan menyangkut dengan naluri, daya pikir, dan serangkaian metode intuitif yang keseluruhannya dirangkum yang menjadi suatu kreatifitas (pendekatan holistik).

3. Proses berdasarkan informasi.
Pengambilan keputusan tanpa informasi berarti menghilangkan kesempatan belajar secara adaptif. Seorang manajer harus memiliki pengetahuan yang memadai tentang Informatika untuk pengambilan keputusan yang efektif serta harus menuntut agar tersedia baginya informasi yang memenuhi persyaratan kemutakhiran, kelengkapan, dapat dipercaya dan disajikan dalam bentuk yang tepat.

4. Memperhitungkan faktor-faktor ketidakpastian.
Betapa pun telitinya perkiraan keadaan, dalamnya kajian terhadap berbagai alternatif, tetap tidak ada jaminan bebas dari resiko ketidakpastian. Untuk itu pengambilan keputusan harus dapat Memperhitungkan probabilitas (kemungkinan) keberhasilan atau kekurang-berhasilan pelaksanaan suatu keputusan.

5. Diarahkan pada tindakan nyata.
Mengambil suatu tindakan harus dapat ditentukan secara pasti, kapan pemecahan berakhir dan proses pengambilan keputusan dimulai. Masalah dan sasaran sering mempunyai siklus pertumbuhan dan penyusutan, demikian juga faktor-faktor yang mempengaruhi. Hal tersebut harus dikenali secara tepat karena akan sangat mempengaruhi keputusan untuk bertindak atau tidak bertindak.


supply chain management



1 SCM adalah bagian dalam sebuah strategi bisnis dimana bisnis saat ini ditunjang dengan media elektronik yaitu internet. Fungsi dari SCM ini dapat mendukung dalam memberikan produk atau jasa kepada pelanggan sampai akhir dengan baik. Supply Chain management memanfaatkan sistem informasi. Tujuan dibangunnya Supply Chain Management untuk meningkatkan daya saing dan keuntungan bagi perusahaan tersebut.

2 AGILITY : DEFINISI DAN ATRIBUT
Agility merupakan kapabilitas bisnis mencakup struktur organisasi, sistem informasi, proses logistik, dan juga pola pikir organisasi yang cakap/tangkas dan fleksibel untuk merespon setiap perubahan yang terjadi secara cepat. Karakteristik inti organisasi yang agile adalah fleksibel dan dapat mererspon secara cepat permintaan konsumen, perubahan volume produk dan jadwal. Agility terkait dengan perubahan harga, kualitas, kustomisasi, dan pengiriman tepat waktu. Agility memiliki empat prinsip dasar yaitu memberikan nilai bagi konsumen, kesiapan untuk berubah, penilaian terhadap pengetahuan dan keterampilan sumber daya manusia, dan pembentukan virtual partnership. Untuk menjadi organisasi yang agile diperlukan agility capabilities sebagai competitive excellence, yang dapat dicapai melalui empat area yaitu organisasi, sumber daya manusia, teknologi, dan inovasi.
Kapabilitas agility dibagi dalam empat kategori atribut yaitu responsiveness, competencies, flexibility, dan quickness. Responsiveness merupakan kemampuan untuk mengidentifikasi perubahan dan merespon perubahan tersebut secara cepat. Competencies merupakan kemampuan untuk memberikan produktivitas, efisiensi, dan efektivitas aktivitas bisnis untuk mendapat tujuan perusahaan. Flexibility merupakan kemampuan memproses produk yang berbeda dengan fasilitas yang sama yaitu mencakup fleksibilitas volume produk, model produk, dan isu organisasi. Quickness merupakan kemampuan untuk menyelesaikan tugas-tugas dan kegiatan operasi dalam waktu yang paling pendek mencakup pengenalan produk baru, kecepatan pengiriman produk dan jasa, dan kecepatan waktu operasi. 

AGILE SUPPLY CHAIN : DEFINISI DAN DIMENSI
Rantai pasokan menggambarkan serangkaian aktivitas yang paling terkait diantara perusahaan-perusahaan yang memberikan kontribusi dalam proses desain, pabrikasi, dan pengiriman produk atau jasa ke konsumen akhir. Tujuan utama agile supply chain adalah penciptaan nilai dan kepuasan pelanggan atau konsumen melebihi kompetitor, mencapai kustomisasi masa pada biaya produksi masa, dan meningkatkan peran dan keterlibatan sumbr daya manusia dalam pengugnaan teknologi informasi.
Mengidentifikasi empat dimensi agile supply chain, yaitu . 1) Customer sensitivity memfokuskan pada upaya untuk mengeliminasi kegiatan-kegiatan yang tidak memberikan nilai tambah. 2) Virtual integration, menekankan pada respon cepat dalam pergerakan produksi yang stabil. 3) Process Integration melalui pengelolaan tim. 4) Network Intergration .
Customer sensitivity memiliki arti bahwa rantai pasokan harus memiliki kapabilitas dalam membaca dan merespon permintaan pasar. Penggunaan teknologi informasi diperlukan untuk berbagai data antara pemasok dan pembeli yang dapat mempengaruhi penciptaann virtual supply chain yang berbasis informasi. Integrasi virtual, dimensi ketiga mencakup akses informasi, pengetahuan, dan kompetensi peerusahaan melalui internet.

PERAN TEKNOLOGI INFORMASI DALAM MENCAPAI AGILE SUPPLY CHAIN
Untuk mengantisipasi semua perubahan dan perkembangan tersebut perusahaan mencari cara-cara dan terobosan-terobosan baru melalui aplikasi teknologi informasi. Peningkatan integrasi otomatisasi proses bisnis akan membawa dampak pada pengurangan tugas manual. Demikian juga infrastruktur teknologi informasi yang terintegrasi diharapkan dapat menurunkan biaya terkait dengan biaya pemeliharaan, manajemen, operasional dan mendukung pencapaian keunggulan kompetitif melalui perbaikan real time respon. Semula teknologi informasi digunakan hanya trbatas pada pemrosesan data, dengan berkembangnya teknologi tersebut hampir semua aktivitas organisasi telah dimasuki oleh aplikasi dan otomatisasi teknologi informasi.
Penggunaan teknologi informasi pada aktivitas perusahaan seperti pada rantai nilai (value chain) dapat mengatasi berbagai masalah yang muncul seprti penghematan biaya, mempercepat waktu oprasi, meningkatkan produktivitas, mempercepat pengiriman produk maupun jasa pada pelanggan. Selama beberapa tahun sebelum munculnya teknologi enterprise resources planning (ERP) sebagai suatu pendekatan terintegrasi dalam integrasi sistem, perusahaan memfokuskan pada teknologi EDI untuk memperbaiki proses otomatisasi proses bisnis dan rantai pasok antar perusahaan. Sisteem ERP membrikan perbaikan kepuasan konsumeen dan meningkatkan produktivitas. Tapi ERP juga punya keterbatasan yaitu kustomisasi dalam mendukung proses bisnis dan rantai pasokan dalam meendukung proses bisnis dan rantai pasokan secara keseluruhan.
Perkembangan teknologi informasi disatu sisi memang menguntungkan tetapi disisi lain dapat menimbulkan beberapa masalah. Untuk pengadaan teknologi informasi diperlukan biaya yang tidak sedikit, tidak hanya membutuhkan pengetahuan dan kemampuan teknis namun sistem dan teknologi informasi tersebut harus acceptable artinya dapat diterima oleeh orang-orang yang akan menggunakannya. Permasalahan lain yang muncul dengan semakin canggihnya teknologi adalah adanya kejahatan-kejahatan teknologi informasi, misalnya pencurian data perusahaan yang berakibat serius pada kelangsungan hidup perusahaan. Peran penting teknologi informasi dalam merespon perkembangan lingkungan bisnis yang dinamis dan makin kompetitif menuntut perusahaan untuk mampu mengatasi seemua permasalahan yang timbul dengan adanya teknologi informasi dan melakukan investasi dibidang teknologi informasi sehingga kinerja perusahaan dapat ditingkatkan.
TAHAPAN DALAM MENCAPAI AGILE SUPPLY CHAIN
Untuk tetap bersaing, perusahaan harus responsif dan fleksibel dalam memenuhi perubahan permintaan pasar. Memperbaiki daya saing dengan meningkatkan efisiensi dan efektivitas bisnis internal seperti pembelian, pergudangan, pengelolaan material, dan distribusi yang cenderung memerlukan waktu banyak dan sumber daya finansial yang besar juga sangat diperlukan.
Venkatraman dan Henderson berpendapat bahwa agility dan kapabilitas rantai pasokan dapat dinilai melalui tahapan yang dicapai bila tiga dimensi rantai pasokan yaitu interaksi konsumen, konfigurasi aset, dan knowledge leverage.
Ketiga tahapan dalam rantai pasokan dapat digunakan untuk mengevaluasi ketiga dimensi tahapan rantai pasokan. Dimensi pertama adalah interaksi konsumen. Tujuan utama pada tahap ini adalah membantu perusahaan untuk mengidentifikasi prefensi unik untuk dynamic customization pada tahapan selanjutnya. Dimensi kedua adalah asset configuration, menekankan pada perubahan outsourching ke dalam proses bisnis yang independen, yang kemudian berkembang dalam koalisi sumber daya. Dimensi ketiga, knowledge leverage, memerlukan pengembangan dari penekanan pada keahlian kerja unit atau kompetensi kerja individual dan struktur kedalam aset perusahaan atau tim.
Kesimpulan yang dapat diambil dari pembahasan sebelumnya adalah bahwa target yang hendak dicapai dalam setiap dimensi agile supply chain dimulai pada tingkat perusahaan secara individual kemudian meluas pada tingkat organisasi dan unit interorganisasional dalam ketiga tahapan pencapaian agile supply chain.

PENERAPAN AGILE SCM DI BERBAGAI NEGARA
Paradigma persaingan antar jejaring bisnis yang marak berkembang saat ini makin meningkatkan kesadaran akan pentingnya penerapan konsep Agile SCM sebagai suatu strategi untuk meningkatkan aktivitas pemasaran dan perekonomian dalam artian yang lebih luas. Terdapat empat strategi yang ingin ditemputh oleh pemerintah negara tersebut yaitu : pengembangan efisiensi industri-industri, mempromosikan secara intensif aktivitas investasi.
Praktek penerapan konsep SCM dilakukan dalam berbagai industri yang menyangkut : industri tekstil, consumr goods, otomotif, rokok, furniture, dan juga pasar swalayan. Tujuan penerapan konsep anatara lain : pada kepuasan pelanggan, pengurangan biaya baik biaya yang terjadi pada tingkat inventory maupun pada proses distribusi yang bisa dilakukan secara cepat sehinggak pada akhirnya pula bisa memberikan tanggapan secara tepat atas keluhan konsumen.
Implementasi konsep SCM sangat bergantung pada berbagai hal yang muncul dari lingkungan eksternal seperti : dukungan sosial politik, persiapan infrastruktur (telkomunikasi, transportasi), pendidikan masyarakat, dan sebagainya. Diakui bahwa masalah infrastruktur akan menjadi hambatanluar biasa bagi penerapan teknologi informasi. Di berbagai negara Asia masalah distribui, atau pengiriman produk terganggu oleh adanya peraturan-peraturan yang tidak perlu yang muncul dari pihak pemerintah setempat.
Perusahaan-perusahaan yang telah menerapkan konsep SCM mengakui bahwa pelaksanaan konsep ini tidak akan berjalan dengan lancar manakala tidak didukung oleh berbagai hal yang muncul dari lingkungan organisasi. Perusahaan dengan berbagai produk andalan seperti Milks, Instants Drinks, Culinary, Chocolates, dan sebagainya, sejak menerapkan SCM pada empat tahun lalu mengalami banyak perbaikan dalam bidang distribusi yang pada gilirannya mempengaruhi kinerja perusahaan secara keseluruhan.

3 Produk inovatif: memiliki siklus hidup pendek, lead time panjang, keunikan, dan dan kompleksitas rendah.
Strategi produk inovatif menitikberatkan pada kemampuan rantai pasokan untuk merespon kebutuhan pasar yang cepat berubah. Strategi supply chain untuk produk inovatif lebih dikenal dengan strategi responsive supply chain (agile supply chain).
Pengembangan produk
Adalah upaya meningkatkan produksi dengan memberikan nilai tambah dan inovasi terbaru melalui berbagai teknik dan penelitian yang dilakukan  para ahli sehingga dihasilkan produk baru
Pemasaran produk
Ketika produk baru telah dikembangkan maka tugas dari fungsi marketing untuk menarik pelanggan dan meyakinkan pelanggan untuk membeli produk tersebut, teknik pemasaran perlu di kembangkan dengan baik karena kemasan dan disain sebaik apapun belum tentu berhasil dipasarkan bila tidak menguasai teknik teknik pemasaran
Mengelola Rantai nilai untuk meningkatkan respon pelanggan
Karena kepuasan pelanggan sangatlah penting maka manajemen perlu mendisain  aktivitas yang berhubungan dengan supply chain mulai dari perencanaan, pengorganisasian, dan prosedur pasokan penunjangnya
Tujuannya adalah terciptanya efisiensi dan biaya yang lebih rendah
Pengelolaan hubungan yang baik antar proses bisinis utama , supplier, pelanggan dan rekanan bisinis merupakan hal penting dan dapat meningkatkan keuntungan daya saing perusahaan
novasi merupakan kunci keberhasilan bagi usaha baru. Perubahan pasar yang sangat cepat dan persaingan yang kompleks menuntut inovasi yang terus-menerus. Inovasi yang terus-menerus merupakan suatu kekuatan bagi wirausaha dalam. meraih sukses usahanya. Beberapa bentuk inovasi yang lazim. dan terkenal ialah dalam bentuk produk baru, perbedaan teknik/cara, dan pendekatan baru dalam memperkenalkannya.
Kecepatan
Kecepatan merupakan kekuatan dalam persaingan. Dengan kecepatan berati mengurangi biaya, meningkatkan kualitas, dan memenuhi permintaan pasar. Secara filosopi, kecepatan disebut Time Compression Management (TCM), yang memiliki dua aspek, yaitu: (1) Mempercepat produk baru ke pasar, dan (2) Memperpendek waktu dalam merespons permintaan pelanggan baik dalam memproses produk maupun dalam mendistribusikan atau menyampaikannya.
Agar perusahaan yang mementingkan TQM dapat bersaing, hendaknya melakukan hal-hal sebagai berikut:
(1) Perbaharui keseluruhan proses sehingga menjadi lebih cepat.
(2) Ciptakan fungsi silang dari tim kerja, berikan wewenang untuk memecahkan persoalan. Tim kerja yang yang dimaksud adalah insinyur, pekerja yang dipabrik penjual, ahli kualitas, dan bahkan pelanggan.
(3) Arahkan tujuan secara agresif untuk mengurangi waktu dan memperpendek jadwal. Melalui TQM diharapkan dapat mengurangi siklus waktu, misalnya yang seharusnya beberapa minggu menjadi beberapa hari atau jam saja, seharusnya sebulan hanya beberapa minggu saja, dan seterusnya.
(4) Tanamkan budaya cepat. Pelayanan harus cepat namun tepat, hemat, dan sopan.
(5) Gunakan teknologi yang dapat mempercepat proses.
Pelayanan dan Kepuasan Pelanggan
Wirausaha mengetahui bahwa salah satu cara terbaik untuk mempertahankan pelanggan dan menarik pelanggan baru adalah dengan menyajikan pelayanan yang lebih baik yang tidak tertandingi oleh pesaing lain. Cara menciptakan pelayanan dan kepuasan pelanggan dapat dilakukan sebagai berikut:
(1) Dengarkan dan perhatikan pelanggan.
(2) Tetapkan pelayanan yang terbaik.
(3) Tetapkan ukuran dan kinerja standar.
(4) Berikan perlindungan hak-hak karyawan.
(5) Latih karyawan cara memberikan pelayanan yang istimewa.
(6) Gunakan teknologi yang memberikan pelayanan terbaik.
Organisasi yang terkemuka pasti mengetahui tentang membangun
organisasi berbasis inovasi. Inovasi dapat dilakukan secara menyeluruh pada aspek
produk, proses, administrasi dan teknologi, dengan senantiasa berpijak pada kondisi pasar
(berorientasi pasar), sehingga mampu mencapai kinerja organisasi dan mewujudkan
keunggulan bersaing. Inovasi merupakan mediator antara orientasi pasar dengan kinerja organisasi.

4 bagaimana teknologi informasi dapat mengimplementasikan pada SCM??
Yaitu dengan Strategi penyelesain konflik dalam manajemen rantai supply (SCM), diantaranya sebagai berikut :
  •       Demand management/forecasting
           Perangkat peralatan dengan menggunakan teknik-teknik peramalan secara statistik. Perangkat ini dimaksudkan untuk mendapatkan hasil peramalan yang lebih akurat.
  •       Advanced planning and scheduling
         Suatu peralatan dalam rangka menciptakan taktik perencanaan, jangka menengah dan panjang berikut keputusan-keputusan menyangkut sumber yang harus diambil dalam rangka melengkapi jaringan supply
  • Transportation management
       Suatu fungsi yang berkaitan dengan proses pendisitribusian produk dalam supply chain
  • Distribution and deployment
      Suatu alat perencanaan yang menyeimbangkan dan mengoptimalkan jaringan distribusi pada waktu yang diperlukan. Dalam hal ini, Vendor Managed Invetory dijadikan pertimbangan dalam rangka optimalisasi.
  • Production planning
      Perencanaan produksi dan jadwal penjualan menggunakan taraf yang dinamis dan teknik yang optimal.
  • Available to-promise
      Tanggapan yang cepat dengan mempertimbangkan alokasi, produksi dan kapasitas transportasi serta biaya dalam keseluruhan rantai supply .
  • Supply chain modeler
    Perangkat dalam bentuk model yang dapat digunakan secara mudah guna mengarahkan serta mengontrol rantai supply. Melalui model ini, mekanisme kerja dari konsep supply chain dapat diamati.
  • Optimizer
    The optimizer ibarat jantung dari sistem supply chain management. Dalamnya terkandung: linear & integer programming, non-linear programming, heuristics and genetic algorithm. Genetic algorithm adalah suatu computing technology yang mampu mencari serta menghasilkan solusi terbaik atas jutaan kemungkinan kombinasi atas setiap parameter yang digunakan


  1. Framework Teknologi dalam SCM

2.1. Strategic Planning IT
Seperti yang dijelaskan pada gambar 1, peran dari manajemen tingkat atas sangat penting dalam membuat strategi dan keputusan berdasarkan fakta dan data. Jaman globalisasi menuntuk untuk menerapkan teknologi informasi dalam proses bisnis. Tentu saja penerapan teknologi informasi dalam sistem SCM, tidak hanya diterapkan dalam bentuk software saja tetapi juga dilakukan perubahan dalam proses bisnis dan cara kerja perusahaan.  Dalam membuat perubahan sangat penting untuk berinvestasi baik dalam dana maupun orang yang memiliki kemampuan. Apabila sebuah perusahaan tidak menerapkan Teknologi Informasi dalam kegiatan mereka, sangat dimungkinkan beberapa tahun kedepan perusahaan tersebut akan kehilangan posisi dalam pasar. Tentu saja dalam penerapan Teknologi Informasi dalam proses bisnis terutama dalam SCM perlu adanya strategi yang efektif akan perusahaan dapat berkembang dan tidak kehilangan posisi dalam pasar. Beberapa strategi tersebut adalah :
  1. Perusahaan menerapkan teknologi informasi dalam proses kecepatan delivery barang atau jasa serta kualitas dari pelayanan
  2. Perusahaan menerapkan teknologi informasi untuk mengembangkan performa supply chain dengan berusaha mendapatkan kebutuhan finansial dan dukungan dari pemerintah
  3. Penggunaan teknologi informasi untuk meminimalkan biaya dengan menggunakan Internet dalam proses supply chain
  4. Perusahaan berusaha mengembangkan e-commerce untuk menciptakan image yang baik bagi pelanggan
2.2. Virtual Enterprise(VE)
Pengembangan  Virtual Enterprise merupakan salah satu hal terpenting dalam menerapkan teknologi informasi dalam SCM. Tanpa adanya penggunaan teknologi informasi, sangat sulit untuk mengembangkan VE karena Virtual Enterprise terdiri atas kolaborasi beberapa perusahaan yang menawarkan produk dan jasa yang berbeda dengan penerapan teknologi serta sistem yang berdeba pula tergantung core bisnis perusahaan. Sebelum menerapkan  Virtual Enterprise dalam proses bisnis, perusahaan harus melakukan evaluasi mengenai sistem teknologi supply chain apakah mendukung untuk diintegrasikan dengan teknologi supply chain perusahaan patner.
2.3. E-Commerce
Dampak adanya e-commerce dalam SCM adalah meluasna fasilitas dalam komunikasi dalam organisasi serta mengurangi waktu proses dan berkembangnya kerja sama. E-commerce menyediakan kesempatan bagi sebuah organisasi untuk meluaskan pasar mereka ke seluruh dunia sehingga dapat menaikan tingkat permintaan dalam penggunaan barang atau jasa. Hal ini membutuhkan SCM yang efektif salah satunya dengan menerapkan VE dan Enterprise Rosource Planning (ERP). tren saat ini dalam proses bisnis adalah e-commerce yang diterapkan dalam proses Business-to-Consumen (B2C), Business-to-Businnes(B2B), dan Costumer-to-Costumer(C2C). Dalam meningkatkan proses komunikasi antara supplier dan costumer sangat diperlukan penggunaan internet, web, EDI.
2.4. Infrastructure
Sejak kebutuhan terhadap kecepatan pelayanan internet untuk memproses banyak data, banyak Internet Service Provider(ISP) yang menawarkan kecepatan internet yang tinggi sehingga dalam menjalankan sistem informasi berbasis teknologi informasi tidak lambat dan pelanggan tidak menunggu terlalu lama. Memang dalam mengembangkan infrastuktur membutuhkan investasi dalam pelayanan internet, pengembangan dan pembaharuan web site sehingga diperlukan strategi dalam proses bisnis seperti bekerja sama dengan perusahaan yang bekerja dalam bidang teknologi informasi atau perusahaan lainya yang dapat memcahkan masalah.
2.5. Knowledge dan IT Management (KM)
KM telah menjadi salah satu hal penting dalam pemanfaatan teknologi informasi dalam proses dan lingkungan bisnis untuk memperoleh data dan informasi yang dapat digunakan untuk mengambil keputusan dan strategi perusahaan. Dalam menerapkan KM diperlukan perencanaan, koordinasi dan pengontrolan aktifitas.
2.6. Implentation IT
Dalam melakukan implementasi untuk mendapatkan kecepatan dalam suppy chain diperlukan tim yang kuat yangmengetahui kunci dan pengetahuan teknologi informasi. Dokumentasi yang rapih sangat diperlukan dalam membuat perencanaan dan pengembangan teknologi dalam supply chain.